
PAMEKASAN,BIRO7.COM – Dalam era digital yang serba cepat, di mana informasi mengalir deras dan konten bermunculan di mana-mana, kita seringkali terjebak dalam label dan definisi yang sempit. Salah satunya adalah label “jurnalis”, yang seringkali dianggap sebagai satu-satunya wadah untuk mendefinisikan seseorang yang berkarya dalam dunia tulis-menulis. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks dan kaya.
Banyak individu yang memiliki bakat dan passion dalam menulis, menciptakan karya-karya yang inspiratif, informatif, dan menghibur, namun tidak selalu sesuai dengan definisi tradisional “jurnalis”. Mereka mungkin menulis puisi, cerita pendek, esai, atau bahkan konten kreatif untuk media sosial. Karya-karya mereka memiliki nilai dan dampak yang sama besarnya dengan karya jurnalistik, namun tidak selalu diakui atau dihargai dengan cara yang sama.
Mengapa kita harus terpaku pada label “jurnalis” sebagai satu-satunya tolak ukur untuk menilai kreativitas dan nilai karya tulis? Apakah seorang penulis puisi yang menyentuh hati, seorang penulis cerita pendek yang memikat, atau seorang blogger yang menginspirasi tidak pantas disebut “kreator”?
Kita perlu melepaskan diri dari batasan label dan melihat lebih jauh pada esensi dari karya tulis itu sendiri. Setiap karya yang lahir dari passion, ketekunan, dan kreativitas memiliki nilai dan potensi untuk menginspirasi, menghibur, dan mengubah dunia.
Label “jurnalis” mungkin memiliki tempatnya, namun tidak seharusnya menjadi satu-satunya definisi untuk menilai kreativitas dan nilai karya tulis. Mari kita merangkul keragaman bentuk dan gaya penulisan, dan menghargai setiap karya yang lahir dari passion dan ketekunan, terlepas dari label yang melekat padanya. Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah dampak dan nilai yang diberikan oleh karya tersebut kepada dunia.


