Harga Tembakau Anjlok 50 Persen, Petani di Sampang Menjerit Akibat Cuaca Tak Stabil

Sampang _ Biro7.com – Nasib para petani tembakau di Kabupaten Sampang tengah berada di ujung tanduk. Harga jual tembakau anjlok hingga 50 persen, sehingga terkesan membuat petani merugi besar pada musim panen tahun ini.

Dikutip dari salah satu sumber, penurunan harga tembakau di wilayah ini dipicu oleh fenomena kemarau basah yang menyebabkan proses pengeringan tembakau terganggu.

Cuaca yang tidak menentu panas dan hujan datang silih berganti membuat hasil panen tak bisa dijemur dengan optimal, sehingga kualitas tembakau menurun drastis.

Asnawi, seorang petani asal Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, harga tembakau tahun ini merosot tajam dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini harganya rusak, tidak seperti tahun lalu yang masih stabil,” ujarnya. Kamis (21/8/2025).

Asnawi menyebutkan, tahun lalu harga tembakau berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per kilogram. Namun kini, ia hanya mampu menjual seharga Rp 35.000 per kilogram.

“Anjlok sekali tahun ini, kami hanya bisa jual Rp 35.000 perkilonya,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Abd Kholik, petani tembakau asal Desa Rabasan, Kecamatan Camplong. Ia mengaku mengalami kerugian besar akibat gagal panen.

“Lahan saya berisi sekitar 8.000 batang tembakau. Tahun lalu saya bisa mendapatkan ditaksir Rp 18 juta. Tapi tahun ini, karena rusak, saya hanya dapat Rp 3,5 juta. Itu saya jual langsung di tempat, tanpa panen,” tuturnya.

Akan tetapi menurut keterangan warga yang lain, kalau untuk saat ini harga tembakau memang anjlok, berbanding harga dengan tahun sebelumnya. Yang sebelumnya bisa laku hingga Rp. 80,000 – 90,000 sekarang tidak segitu.

“Untuk saat ini meskipun yang bagus sekalipun masih di harga 50 atau 60 perkilo. Tapi ini masih sementara, soalnya harga masih belum duduk,” ujar Hamed warga setempat

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sampang, Chandra Ramadhani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini memang masih dalam fase kemarau basah, yang diperkirakan akan berlangsung hingga bulan depan.

“Iya, saat ini masih kemarau basah. Dampaknya sangat dirasakan oleh petani tembakau dan juga petani garam, karena mereka tidak bisa menjemur hasil panen secara maksimal,” ungkap Chandra. (AM)

Exit mobile version