OPINI PUBLIK — SERI-7
Pasuruan – Biro7.com – Pasuruan Punya Gunungnya Sendiri, Punya Batunya Sendiri, Punya Pasirnya Sendiri. Kalau Sumbernya Sampai Berhenti, Daerah Ini Akan Membangun Dirinya Memakai Material Milik Daerah Orang Lain — dan Dibayar dengan Uang Rakyatnya Sendiri
Selama ini pembicaraan tentang pajak tambang selalu berhenti di satu sisi saja: berapa yang bisa dipungut, dan berapa yang masuk ke kas daerah.
Tidak pernah ada yang berani bertanya ke arah sebaliknya.
Bagaimana kalau tekanannya terlalu berat, lalu satu per satu usaha tambang di Kabupaten Pasuruan benar-benar berhenti?
Jangan buru-buru menganggap pertanyaan itu berlebihan. Sebab kalau itu terjadi, materialnya tidak ikut hilang. Batunya masih di sana. Pasirnya masih di sana. Gunungnya tidak ke mana-mana.
Yang hilang hanya orang yang sanggup mengambilnya.
Dan sejak hari itu, Kabupaten Pasuruan harus membeli material untuk membangun dirinya sendiri dari daerah orang lain.
Yang pertama merasakan bukan pengusahanya. Bayangkan seorang warga yang membangun rumah biasa, bertahap, sesuai uang yang terkumpul. Hari ini ia membeli pasir dan batu dari lokasi yang dekat. Kalau materialnya harus didatangkan dari kabupaten sebelah, harga barangnya mungkin tidak jauh berbeda — tetapi ongkos angkutnya bertambah, dan tambahan itu tidak ditanggung siapa pun kecuali pembelinya.
Hal yang sama berlaku bagi tukang bangunan, toko material kecil di pinggir jalan, dan siapa pun yang sedang membangun apa pun di Kabupaten Pasuruan.
Sekarang naikkan skalanya. Jalan kabupaten, jembatan, saluran air, plengsengan, rehabilitasi gedung sekolah, pembangunan kantor desa — semuanya memakai material yang sama. Begitu material itu harus didatangkan dari luar daerah, ongkos angkut masuk ke dalam harga satuan, dan nilai proyeknya naik.
Lalu proyek itu dibayar pakai uang siapa?
Dibayar pakai APBD. Dan APBD itu uang rakyat juga.
Di sinilah letak ironinya. Hari ini pajak dikejar sebesar-besarnya demi menambah PAD. Tetapi kalau sumbernya sampai tumbang, pemerintah daerah sendiri yang harus membayar lebih mahal untuk membangun daerahnya sendiri.
Masuk lewat satu pintu, keluar lewat pintu yang lain. Dan dua-duanya dari kantong yang sama: kantong rakyat Pasuruan.
UANG PINDAH KE DAERAH LAIN
Ada satu hal lagi yang tidak pernah muncul di slide mana pun.
Selama material dibeli dari dalam daerah, uangnya berputar di Pasuruan. Masuk ke pengusahanya, ke sopirnya, ke operatornya, ke mekaniknya, ke penjual solar, ke warung di dekat lokasi tambang, ke bengkel tempat truknya diperbaiki.
Begitu material dibeli dari kabupaten lain, seluruh perputaran itu ikut pindah.
Pajaknya masuk ke kas daerah lain. Pekerjaannya ada di daerah lain. Warung dan bengkelnya hidup di daerah lain.
Yang tertinggal di Pasuruan hanya satu: biayanya.
Kabupaten yang memiliki gunungnya sendiri, tetapi membangun jalannya dengan material milik tetangga. Itu bukan prestasi. Itu kegagalan mengurus apa yang sudah dimiliki.
JADI SEBENARNYA SIAPA YANG RUGI?
FORMAT Pasuruan tidak sedang meramalkan bahwa seluruh tambang di Kabupaten Pasuruan pasti tutup. Bukan itu maksudnya.
Yang kami persoalkan sederhana: sebelum tekanan ditambah, hitung dulu apa yang terjadi kalau yang ditekan itu benar-benar tidak sanggup lagi bertahan.
Karena kalau sampai terjadi, yang rugi bukan pemilik usahanya.
Yang rugi adalah warga yang membangun rumahnya dengan material yang harganya naik.
Yang rugi adalah pekerja yang kehilangan penghasilan di tanah kelahirannya sendiri.
Yang rugi adalah APBD, yang harus membayar proyek lebih mahal untuk hasil yang sama.
Yang rugi adalah Kabupaten Pasuruan, yang punya materialnya sendiri tetapi terpaksa membelinya dari tetangga.
Prosesnya berjalan pelan dan sunyi. Satu alat berat berhenti hari ini. Satu perusahaan menyerah bulan depan. Satu izin tidak diperpanjang tahun depan.
Sampai akhirnya angka itu sendiri yang berbicara. Dan ketika angka itu bicara, biasanya sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.
Yang dikejar target satu tahun anggaran. Yang dipertaruhkan sumber material puluhan tahun ke depan.
Pak Bupati, pernahkah perhitungan seperti ini diletakkan di atas meja Bapak? Atau yang sampai ke sana selama ini memang hanya satu lembar berisi angka target penerimaan?
FORMAT Pasuruan – Ismail Makky, SE. SH., MM. (Ketua)






