
Sampang _ Biro7.com – Setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, kasus kusta di Kabupaten Sampang kembali menunjukkan tren peningkatan.
Hingga pertengahan tahun 2025, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Sampang mencatat ada sekitar 85 penderita. Rabu (9/7/2025)
Kepala Dinkes KB Sampang, dr. Dwi Herlinda Lusi Harini, mengatakan bahwa angka ini menjadi sinyal penting untuk meningkatkan kewaspadaan.
Meski secara historis sempat berhasil menekan angka prevalensi kusta dari 4,81 per 10.000 penduduk di 2014 menjadi 1,83 pada 2021, tren kembali naik pada 2024 ke level 2,27 per 10.000 penduduk.
“Angka ini menunjukkan fluktuasi dalam penemuan kasus. Meskipun di masa pandemi mobilitas terbatas, kita tetap bisa menjaga capaian. Tapi peningkatan terbaru menjadi alarm penting,” ujarnya, Rabu (9/7/2025).
Dari total 486 kasus sejak 2014, jumlahnya memang perlahan menurun. Namun penemuan kasus baru yang mencapai 85 orang hanya dalam enam bulan terakhir menunjukkan bahwa tantangan belum selesai.
Penanganan kusta di Sampang bukannya tanpa hambatan. Stigma sosial terhadap penderita kusta masih tinggi, dan aktivitas pelacakan kasus belum maksimal karena keterbatasan tenaga serta koordinasi antar sektor.
“Kami akui, masih banyak yang takut atau malu memeriksakan diri. Itu sebabnya kami genjot edukasi dan deteksi dini,” tambah dr. Dwi.
Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes KB Sampang mengembangkan sejumlah inovasi lokal berbasis komunitas.
Salah satunya adalah program “Desa Sahabat Kusta” yang sudah berjalan di lima desa. Di sana, kader-kader lokal diberdayakan untuk menyebarkan edukasi dan menekan stigma.
Selain itu, ada juga program “PDKT” (Penemuan Dini Kusta Terpadu) dan “Desa Kuasik” juga diluncurkan. Uniknya, program ini melibatkan tokoh agama dan kepala desa untuk ikut aktif dalam proses skrining dan pendampingan warga.
Meski masih berjalan, capaian pengobatan menunjukkan hasil positif. Di tahun 2025 ini, keberhasilan pengobatan sudah mencapai 83%, dan diperkirakan bisa melampaui 90% seperti pada 2020.
“Kami tidak menyerah. Upaya kolaboratif terus diperkuat. Harapannya, kusta bisa ditekan, tidak hanya dari sisi medis, tapi juga dari sisi sosial,” tutupnya. (AM)






