Miris! Gedung Sekolah di Sampang Rusak Parah, Siswa Terpaksa Belajar Berpindah-pindah

Sampang _ Biro7.com – Kondisi bangunan SDN Margantoko 1 di Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, memprihatinkan.

Sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan berat dan dinilai sudah tidak layak digunakan.

Meski demikian, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dengan segala keterbatasan.

Warga setempat, Yulianti, mengatakan kerusakan gedung sekolah tersebut bukan hal baru. Menurutnya, beberapa ruang kelas sudah lama dalam kondisi rusak parah.

“Sudah cukup lama rusaknya. Ada beberapa kelas yang kondisinya memang sangat memprihatinkan,” tuturnya, Jum’at (13/2/2027).

Karena keterbatasan ruang, para siswa terpaksa memanfaatkan ruangan lain yang masih memungkinkan untuk digunakan, seperti ruang guru maupun ruangan alternatif lainnya. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan saat musim hujan tiba.

“Anak-anak tetap belajar di sekolah, tapi dibagi-bagi tempatnya. Kalau hujan turun, kami khawatir terjadi sesuatu,” ujarnya.

Kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan dan kenyamanan anak-anak mereka berdampak pada penurunan jumlah siswa. Sejumlah wali murid memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain yang dinilai lebih aman.

Kepala SDN Margantoko 1, Suranta, membenarkan bahwa bangunan sekolah memang sudah lama mengalami kerusakan. Ia menilai perbaikan ringan tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Sejak saya mulai bertugas, bangunannya memang sudah rusak cukup parah. Tidak bisa hanya tambal sulam, perlu rehabilitasi total,” jelasnya.

Pihak sekolah, lanjut Suranta, telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan kepada Dinas Pendidikan.

Pengajuan dilakukan sejak 2024 dan kembali diajukan pada 2026. Namun hingga kini belum ada realisasi perbaikan.

“Informasinya sudah masuk dalam perencanaan, tapi belum ada tindak lanjut,” katanya.

Minimnya ruang belajar membuat beberapa kelas digabung, kondisi yang dinilai kurang ideal bagi proses pembelajaran, terutama bagi siswa usia sekolah dasar yang masih dalam tahap perkembangan.

“Anak-anak ini butuh lingkungan belajar yang nyaman dan aman. Kami khawatir kalau kondisi ini terus dibiarkan akan berdampak pada kesehatan dan psikologis mereka,” tambahnya.

Berdasarkan keterangan guru senior, rehabilitasi terakhir sekolah tersebut dilakukan sekitar tahun 2012. Sejak saat itu belum ada perbaikan besar yang dilakukan.

Selain persoalan infrastruktur, jumlah siswa juga terus mengalami penurunan. Pada 2022 tercatat sekitar 40 siswa, kemudian berkurang menjadi 38, dan saat ini tersisa 34 siswa.

Sementara itu, Kepala Bidang SD, Yusuf, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengusulkan SDN Margantoko 1 dalam program rehabilitasi sekolah. Namun keputusan akhir berada di tingkat kementerian.

“Kami sudah mengusulkan sesuai prosedur. Penetapan penerima bantuan menjadi kewenangan kementerian dan disesuaikan dengan kuota,” ujarnya.

Ia menambahkan, jumlah sekolah dasar di wilayah tersebut cukup banyak, sedangkan alokasi bantuan tiap tahun terbatas. Tahun lalu, hanya 14 SD yang memperoleh bantuan rehabilitasi dan itu pun dibagi dalam dua tahap.

“Kami tetap berupaya mengusulkan sekolah yang membutuhkan. Untuk SDN Margantoko 1, statusnya masih menunggu proses lebih lanjut,” pungkasnya. (AM)

Exit mobile version