
Sampang _ Biro7.com -Penantian panjang dua nenek bersaudara di Desa Nyiloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, akhirnya terjawab.
Setelah puluhan tahun tinggal di rumah reot. Masdijha (70) dan adiknya, Patha (60), kini bisa bernapas lega. Rumah mereka yang tak layak huni mulai direnovasi oleh DPC Organisasi Masyarakat Madura Asli (Madas) Sampang.
Harapan itu sempat terasa jauh. Rumah berdinding anyaman bambu yang mereka tempati selama bertahun-tahun mengalami kerusakan parah. Atap bocor, dinding lapuk, dan lantai kerap tergenang air setiap musim hujan.
Kondisi tersebut semakin memilukan ketika Masdijha terbaring lemah akibat patah tulang setelah terjatuh ke dalam sumur saat mengambil air.
Sementara itu, sang adik, Patha, juga memiliki keterbatasan fisik sehingga tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk bertahan hidup, keduanya hanya mengandalkan uluran tangan para tetangga.
Kisah pilu dua lansia ini sempat viral di berbagai media daring dan cetak, mengundang simpati masyarakat luas. Bantuan pun berdatangan, namun perbaikan rumah yang telah rapuh selama puluhan tahun itu belum juga terwujud. Hingga akhirnya, bantuan yang dinanti-nantikan benar-benar menjadi kenyataan.
Madas DPC Sampang bergerak cepat. Dengan membawa material seadanya, puluhan anggota Madas dari berbagai DPAC bersama para tukang melakukan renovasi rumah secara gotong royong.
“Saat proses renovasi berlangsung, nenek Masdijha yang lumpuh kami pindahkan sementara ke rumah tetangganya dengan cara kami,” ujar Ketua Madas DPC Sampang, Umar Faruq.
Umar menjelaskan, renovasi dilakukan secara menyeluruh. Atap dan dinding rumah yang sebelumnya berlubang dan lapuk kini diganti dengan material galvalum agar lebih kokoh dan aman.
Tak hanya itu, Madas juga membangun dapur di samping rumah agar lebih luas dan terhindar dari asap saat memasak.
“Yang awalnya masih menggunakan kayu bakar, kami ganti dengan kompor dan LPG. Bahkan untuk kebutuhan LPG dan listrik, kami siap membantu setiap bulan,” jelasnya.
Agar rumah tersebut segera bisa ditempati kembali, dia mengerahkan banyak anggota. Sementara pekerjaan lanjutan diserahkan kepada tukang untuk diselesaikan keesokan harinya.
“Yang terpenting atap dan bagian pinggir rumah sudah aman. Penyempurnaan lainnya kami serahkan ke tukang,” tambah Umar.
Ia menuturkan, semula Madas Sampang berencana merombak total rumah tersebut. Namun atas permintaan Masdijha dan Patha, renovasi dilakukan secukupnya.
“Sebenarnya kami ingin membangun total, tapi permintaan ibu-ibu ini cukup direnovasi saja. Semoga upaya ini bisa sedikit meringankan beban mereka,” pungkasnya (AM)






