Harga Garam Anjlok, Petani Ragung Sampang Menjerit: Panen Tak Lagi Membawa Harapan

Sampang _ Biro7.com – Di tengah teriknya matahari dan mulai mengkristalnya garam di ladang pesisir, seharusnya senyum para petani mengembang menyambut panen. Namun pemandangan berbeda justru terlihat di Desa Ragung, Kecamatan Pengarengan, Kabupaten Sampang.

Alih-alih membawa berkah, musim panen tahun ini justru menghadirkan beban. Harga garam anjlok tajam, nyaris separuh dari harga sebelumnya. Dari yang semula Rp1.500 per kilogram, kini para petani hanya bisa menjual garam mereka di kisaran Rp800 per kilogram.

Satu sak garam yang beratnya mencapai 70 hingga 75 kilogram, kini hanya dihargai sekitar Rp56.000 hingga Rp60.000. Harga itu jelas tak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan selama proses produksi.

Moh. Jamali, salah satu petani garam setempat, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Setiap hari ia bekerja di bawah terik matahari, berharap kristal-kristal putih hasil penguapan air laut bisa membawa penghidupan yang layak. Namun harapan itu seolah ikut menguap bersama cuaca yang tak menentu.

“Siang malam kami bekerja, tapi kalau harga seperti ini, hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup, tidak lebih,” ujarnya. Rabu (30/7/2025).

Selain harga yang jatuh bebas, musim kemarau yang datang terlambat serta kondisi cuaca yang tak menentu membuat produksi garam juga menurun drastis. Dampaknya, kerugian berlipat tak bisa dihindari.

Kondisi ini membuat semangat para petani merosot. Mereka mendesak agar pemerintah turun tangan, memberikan perlindungan harga, memperbaiki sistem tata niaga, hingga mendukung distribusi yang berpihak pada petani kecil.

“Garam adalah satu-satunya sumber penghidupan kami. Kalau harganya hancur seperti ini, maka harapan kami juga ikut mati,” tegas Jamali. (AM)

Penulis: Cak AminkEditor: 3f.Fahmi.red
Exit mobile version